Legenda Ujung Sibolga

SIBOLGA MAGAZINE,UJUNG SIBOLGA - Dahulu, sekitar tahun 1830, terjadi perang antara Imam Bonjol dan Belanda. Perang ini terkenal dengan nama Perang Paderi. Setelah perang berakhir dan Imam Bonjol kalah, banyak panglima perangnya yang lari dan menyingkir dari Bonjol dan Pasaman. yang diincar oleh pasukan Belanda. Imam Bonjol yang lari karena diincar sama Belanda. Salah satu panglima yang menyingkir itu namanya Khulifah Alwi. Khulifah Alwi memiliki ilmu yang banyak, ilmu agama dan ilmu bela diri.

Dalam pelariannya, dia memacu kudanya siang malam. Akhirnya dia sampai di Hajoran. Terdampar dia di situ pagi- pagi sekali. Dia seorang ulama yang kebetulan pula dia mau salat subuh. Karena waktu salat subuh belum datang, kuda ditambatkannya ke surau. Surau itu mirip dengan surau yang ada di daerah Sumatera Barat. Semua daerah pesisir memiliki surau, karena dulu hanya negeri-negeri yang sudah ramai dan telah memiliki pemerintahanlah yang memiliki masjid.

Ujung Sibolga

Hajoran masih kampung kecil yang hanya memiliki surau yang kecil. Surau adalah tempat berkumpulnya para warga. Surau juga menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda. Anak-anak yang sudah menginjak usia remaja, mereka tidak boleh lagi serumah dengan orang tuanya. Anak-anak remaja itu disarankan tinggal di surau untuk belajar adat, agama, dan bela diri.

Di situlah Khulifah singgah untuk melaksanakan salat dan beristirahat. Karena kebetulan waktu salat belum msasuk, dia mengaji sembari menunggu datangnya waktu solat. Suaranya sangat merdu. Penduduk yang tinggal di sekitar surau heran, siapakah yang mengaji di surau itu. Suaranya sangat merdu. Ketika masuk waktu salat, mulailah muadzin azan dan kemudian diikuti dengan iqomat. Saat itu pula pemuda saling menunjuk yang lain untuk menjadi imam karena imam sedang tidak ada di tempat. Akhirnya disuruhlah yang baru datang itu jadi imam. Suara pemuda itu sangat merdu, membuat jemaah sangat senang mendengar suaranya.

Jadi, jika biasanya para jemaah sudah langsung pulang setelah salat, namun tidak demikian keadaannya . Mereka malah mereka duduk melingkar dan bertanya kepada anak muda itu penuh rasa tertarik. Sebenarnya, siapa dan hendak kemanakah gerangan. Lalu berceritalah pemuda itu.
“Saya sebenarnya hendak mencari kehidupan baru. Saya hendak mengubah nasib. Saya mungkin bisa membantu membersihkan masjid dan mengajar anak-anak laki-laki membaca Quran.”
Sejak saat itu dia memimpin anak-anak muda di surau itu. Dia mengajar murid laki-laki, sedangkan perempuan diajar oleh seorang gadis yang bernama Rudiyah, Siti Rudiyah namanya. Seorang anak gadis yang cantik dan pintar mengaji.

Di surau mereka mendiskusikan hal-hal yang berbau pendidikan. Karena setiap waktu sering berpapasan jika hendak ke surau, lama-kelamaan, Khulifah jatuh cinta kepada Siti Rudiyah. Masyarakat setuju. Singkat cerita, Khulifah Alwi dan Siti Rudiyah pun menikah.

Di Sumatera Utara, khususnya di Tapanuli, hal-hal mengenai pernikahan itu harus harus banyak pertimbangan, misalnya tentang keturunan, marga, silsilah keluarganya, dan sebagainya. Karena Khulifah datang dan menikahi putri daerah, maka banyaklah pemuda setempat yang sakit hati. Baru datang namun sudah menjadi suami putri daerah. Dan mereka pun menjadi gelisah. Yang tadinya tidak peduli menjadi peduli. Dari mana asalnya apa latar belakangnya kok kita terima begitu saja. Lalu para pemuda setempat pun menyelidiki siapa Khulifah. Kebetulan pula, di antara anak- anak muda itu ada yang ayahnya orang berkuasa di situ. Maka dihasutlah masyarakat untuk mencelakai Khulifah.

Semua cara sudah dilakukan untuk menjegal Khulifah. Kebetulan pula si Khulifah pandai bersilat. Jadi semua usaha untuk menjegalnya gagal lagi. Ternyata kelemahan Khulifah itu ada pada marga. Khulifah itu bermarga Tanjung. Sama dengan Siti Rudiyah bermarga Tanjung juga. Di Tapanuli Tengah, menikah satu marga itu tidak bagus. Maka dibesar- besarkanlah cerita ini, “Ini akan menuai pergesekan. Ini tidak boleh terjadi. Apalagi Khulifah seorang ulama. Ini sangat tidak pantas!”

Akhirnya Khulifah Alwi lari karena merasa malu. Ia lari ke Sibolga. Di Sibolga ada kapal pincalang, kapal yang terbuat dari kayu. Kapal antarpulau yang berlayar sampai ke Penang. Dan dia ingin melarikan diri dan ingin ke pincalang.

Siang itu pulanglah si Rudiyah ke rumah. Sesampainya di rumah dilihatnya baju suaminya sudah tidak ada lagi. Terkejutlah ia, “Kenapa suamiku pergi begitu saja?” Bertanyalah ia kepada tetangganya, mereka mengatakan bahwa Khulifah pergi ke Sibolga dan memang membawa bungkusan. Tak tahu tepatnya ke mana ia pergi.

Rudyah pun menyusul Khulifah sampai ke Sibolga. Dia pergi tergesa-gesa. Pergi karena rasa sayangnya kepada sang suami. Masalah itu bukanlah masalah besar karena menurut syariat agama, keturunan langsungkan tidak masalah. Air matanya terus mengalir sampai ia tiba di Sibolga, di pelabuhan lama. Dicarilah suaminya. Dia bertanya-tanya kepada orang-orang di sekitar pelabuhan itu, namun mereka mengatakan bahwa suaminya sudah berangkat. Menangislah dia, kenapa begitu tega suaminya meninggalkan dia seorang diri yang belum punya anak. “Kemanakah tempatku mengadu.”

Akhirnya berputar-putarlah dia di sekitaran daerah itu sampai di ujung Sibolga. Dia mencari sambil menangis, siapa saja yang dilihatnya menyerupai suaminya semakin menangislah dia. Menangis hingga berhari-hari, dan akhirnya dia kehilangan akal. Diajak pulang, dia tidak mau. Di atas batu hitam dia selalu bersujud, walaupun sudah kehilangan akal, dia masih tetap saja bersujud berdoa. Sampai pada suatu hari dia sudah tidak bergerak lagi. Dengan posisi sujud di atas batu itu, tiba-tiba datanglah seorang nelayan mengantarkan nasi untuk Rudiyah.

“Rudiyah, makanlah ini,” katanya. Namun dia tak kunjung bangun. Ditepuk-tepuk pun dia tidak bergerak, dan ternyata dia sudah meninggal.

Maka tersiarlah kabar itu, namun satu kampungnya tidak ada yang peduli. “Ah sudahlah, dia bakalan bangun sendiri,” kata mereka.

Sampai berminggu-minggu kemudian, ternyata dia tidak bangun juga dan benar bahwa ia sudah meninggal. Hanya saja masyarakat membiarkannya, hingga akhirnya membatu serupa dengan cerita Malin Kundang, namun dalam keadaan bersujud.

Dulu ketika menimbun Sibolga dari rawa-rawa, membutuhkan banyak bebatuan. Jadi batu tersebut dibongkar. Konon, sampai saat ini jika bulan bersinar terang saat pasang surut dari dasar laut muncul cahaya yang bewarna putih, sekitar 200 – 300 meter dari ujung Sibolga. Dan akhirnya tempat ini pun diberi nama Ujung Sibolga.

1 komentar so far

Silahkan Baca Kebijakan Komentar SIBOLGA MAGAZINE sebelum berkomentar.
EmoticonEmoticon