SIBOLGA MAGAZINE - Beratus tahun yang lalu, Sibolga
Tapaian Nauli masih berbentuk rawa. Poncan merupakan pelabuhan yang terkenal
pada masa itu, dihuni oleh banyak penduduk, dan pedagang yang hilir mudik ke
Pelabuhan Poncan untuk melakukan transaksi barter dan jual beli. Ada pedagang
dari Perancis, Cina, India, bahkan Afrika dan daerah-daerah yang tersebar di
Nusantara lainnya.

Cerita ini bermula dari berlayarnya sebuah kapal Bugis ke Pelabuhan Poncan
yang membawa berbagai macam dagangan, ketika dagangan itu hendak dibongkar maka
saudagar dan nahkodanya memerintahkan untuk terus berlayar menuju daratan
Tapian Nauli yang berada di seberang Pelabuhan Poncan. Perjalanannya memang
tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu satu jam saja untuk sampai ke
seberang. Akhirnya sampailah ke Tapian Nauli, kapal pun menurunkan jangkarnya.
Terheran-heranlah si pemilik kapal, “Kenapa kita ke sini, sementara tempat
ini hanyalah perkampungan yang sepi,” katanya.
Belum lagi lepas dari rasa herannya, saudagar itu menurunkan sampan
kecilnya dan mengayuh seorang diri menuju sebuah kampung yang bernama
Pagadungan.
“Gerangan apakah yang telah membawa Tuan Bugis kemari?”
Sebenarnya sewaktu nahkoda hendak melabuhkan kapal dan menurunkan jangkar di
Pelabuhan Poncan, saudagar tersebut melihat ada sinar yang berkilauan di
daratan seberang, sinar itu mengingatkannya akan ilmu yang pernah dituntutnya
dahulu. Menurut kata hatinya, sinar itu pasti berasal dari besi yang besar
khasiatnya, yang dapat membawa kemujuran bagi pemiliknya, asalkan besi itu
harus dirawat dengan baik.
Itulah sebabnya yang hendak dicarinya ke situ.
Sesampainya saudagar di daratan itu, dicarinya asal cahaya yang berkilau tadi,
apakah itu sesuai dengan ilmu yang didapatinya dahulu. Jika memang demikian ia
bersedia untuk menukar barang dagangan dan seluruh hartanya yang ada di kapal,
asalkan dia dapat menemukan besi itu.
Begitu sulitnya ia menemukan besi itu, dicarinya ke
seluruh pelosok hutan dan permukiman yang ada di sekitar itu. Akhirnya pucuk di
cinta ulam pun tiba, ditemuinya sebuah gubuk tua yang hampir rubuh, tanpa
membuang buang waktu, masuklah ia ke gubuk itu sambil mengucapkan salam kepada
pemiliknya.
Dengan bahasa yang sopan dan santun, dibujuknya pemilik
gubuk tersebut supaya berkenan menjual gubuknya kepadanya. Singkat cerita, dibongkarlah
semua isi di dalam gubuk itu dengan semangat membara. Kini hatinya pun
berbinar-binar membayangkan besi yang bercahaya itu menjadi miliknya.
Dengan bantuan si pemilik gubuk, dibongkarlah gubuk
tersebut. Perlahan-lahan tiangnya dibongkar oleh saudagar tadi. Dan tampaklah
besi kecil yang menempel di tiang gubuk itu dan dicabutnyalah. Diambilnya paku
yang mengeluarkan cahaya dan dengan sigap dibungkusnya paku besi tadi dengan
secarik kain. Dengan perasaan yang bahagia, pamitlah ia kepada pemilik gubuk
tersebut dan menyerahkan kembali gubuk itu kepada pemiliknya. Lalu naiklah
saudagar itu ke sampannya dan mengayuh sampai ke kapalnya yang berlabuh di
sana.
Akhirnya, saudagar itu berlayar tanpa menghiraukan lagi
Pelabuhan Poncan, tempat tujuannya semula untuk berniaga. Dan kini ia asyik
memandang-mandang besi itu dan memeriksa keaslian besi paku tersebut. Menurut
ilmu yang dipelajarinya, apabila besi paku itu asli dan dirawat dengan baik
maka akan membuat si pemilik menjadi sakti. Apa pun yang dikendakinya akan
terkabul.
Di sela-sela waktu tertentu besi paku itu dicucinya
dengan bunga kembang tujuh rupa dan digosok-gosoknya dengan kemenyan putih.
Tidak lupa juga ia menambahkan minyak harum asli dari mesir. Mungkin itu adalah
minyak zefaron yang mistik.
Sedang asyik-asyiknya mengagumi cahaya yang keluar dari
paku besi itu, rupanya datang angin kencang yang menghantam ombak dan
menggoncang kapalnya. Si saudagar Bugis tersebut terkejut sehingga paku besi
itu terlepas dari tangannya dan terpelanting ke bawah, di antara batasan muara
Sungai Badiri dan muara Sungai Lumut di hadapan Kampung Jagojago. Alangkah
pucatnya wajah saudagar Bugis itu. Diperintahkannyalah awak kapalnya untuk
menyelam mengambil paku besi keramat yang jatuh tersebut, tetapi tak satu orang
pun yang berani dikarenakan banyaknya buaya di kedua muara itu. Kecewalah hati
saudagar Bugis, sambil menahan amarah kepada anak buahnya. Sudah susah payah
dia mencari paku keramat itu sehingga tidak dipedulikannya lagi perjalanannya.
Sejak saat itu, suasana di dalam kapal tersebut menjadi
tidak nyaman. Masing-masing saling menyalahkan. Sampai gelombang badai yang
sangat besar dan topan dari lautan Hindia menghancurkan dan akhirnya mereka
semua tenggelam. Tidak seorang pun dari anak buah kapal itu yang selamat
termasuk juga saudagar Bugis.
Walaupun cerita itu telah beratus tahun yang lalu, namun
paku besi keramat itu sering tampak pada malam malam tertentu. Sesuatu terlihat
oleh para nelayan dan juru mudi mengeluarkan cahaya di antara dua muara Sungai
Badiri dan muara Sungai Lumut di muka Kampung Jagojago.
Apalagi saat malam datang di saat badai dan gelombang pasang murka, paku besi
keramat milik saudagar Bugis itu muncul mengeluarkan cahaya berkelap-kelip
bagaikan lampu suar untuk jadi petunjuk bagi nelayan dan juru mudi menuju
daratan Tapian Nauli dan Teluk Sibolga.
Silahkan Baca Kebijakan Komentar SIBOLGA MAGAZINE sebelum berkomentar.
EmoticonEmoticon