Tentang Sibolga dan Beberapa Versi Asal Mula Kata Sibolga

Tentang Sibolga dan Beberapa Versi Asal Mula Kata Sibolga

SIBOLGA MAGAZINE,Kota Sibolga - Pada zaman dahulu kala ada seorang lelaki yang duduk sambil meratap dengan penuh kesedihan sambil memukul bambu dan pada akhirnya menjadi sebuah kesenian khas Pesisir Tapanuli Tengah yang dikenal dengan nama Kambang.

Kambang ini hampir sama dengan peralatan yang ada di Pantai Timur seperti gendang, rebana, dan macam tari- tarian yakni Tari Paying. Dia meratap dan bernyanyi melantunkan nada dan liriknya sambil menunggu kedatangan putrinya yang sudah lama menghilang.

Pulau lipat kain pulau putri, pulau manginang ketiga pulau, anak janggi ingkar puisi, sabanta bami yang racun bamain dalam hati. Labeklah hujan di mursala, sikambangla bungo parautan, binatang di langit punya sala, ombak di lawik mananggungkan.

Itulah isi kira-kira ratapannya yang menggambarkan bagaimana suasana hatinya. Sambil berlantun, sesuai dengan perkembangan alat musik yang akhirnya digantikan dengan rebana, biola, gitar, dan alat musik dari Tapanuli Tengah yang namanya sikambang. Jadi kalau dilihat dari asal usulnya ada alat musik yang mirip dengan sikambang ini seperti di Bengkulu dan Sumatera Barat, tetapi belum pernah saya lihat langsung versi mereka, tapi semua hampir sama karena bahasa pesisir yang dominan adalah bahasa Minang.

Bahasa Pesisir tidak ada bahasa Melayunya. Memang sekilas tampaknya masyarakat pesisir identik dengan Melayu sama halnya seperti aturan kita dulunya bahwa kalau sudah menganut agama Islam secara langsung menjadi Melayu. Walaupun kita ada yang disebut dengan Melayu Pesisir kita ketahui bahwa seluruh pasir pantai itu adalah Pesisir, jadi sulit untuk membedaakan yang mana Pesisir Sibolga, makanya jika tinggal di Pesisir ini, orang akan bertanya, orang mana? Orang Pesisir. Pesisir mana? Pesisir Sibolga. Alasan kenapa itu disebut Pesisir Sibolga karena memang dahulu orang lebih mengenal Sibolga karena kantor pemerintahannya terletak di Sibolga.

Ada beberapa versi asal mula kata Sibolga. Kalau menurut tokoh dari marga Hutagalung, kata Sibolga berasal dari Sibolga, ‘Sibolga’ dalam bahasa Batak ‘balga’ bermakna besar. “Ise daori si balgai” artinya “Siapa yang datang itu, orang besar itu”. Jadi secara sekilas asal kata Sibolga itu memang ada beberapa versi. Ada yang mengatakan bahwa marga Hutagalung lah yang mendirikan kota itu.

Pendapat lain mengatakan, Sibolga itu berasal dari pohon boga-boga yang mana dulu Sibolga merupakan kawasan bakau. Karena melihat kondisi pemukiman yang semakin padat akhirnya Belanda membuka lahan pemukiman baru yang melibatkan orang rantai (tahanan). Orang-orang tahanan tersebut diberdayakan untuk membuka irigasi sehingga lambat-laun menjadi daratan. Itulah yang kini dikenal dengan Sibolga.

Sejak saat itu, pindahlah masyarakat dari seberang dan dari pemukiman-pemukiman kecil yang ada di pinggiran. Karena daerah itu ditumbuhi bakau-bakau atau boga-boga maka dari situlah asal nama Sibolga. Selain itu ada juga sejenis binatang amfibi namanya ‘baga-baga’, yang hanya hidup di air payau.

Ada juga beberapa versi mengatakan hutan sebagai luma-luma dan akhirnya menjadi Sibolga. Jadi alasan mengapa didirikannya daratan Sibolga, erat hubungannya dengan hutan kecil itu. Dulu tempat itu merupakan bandar dan merupakan bandar tertua. Dulu Sibolga itu juga belum termasuk daerah Tapanuli.

Setiap orang-orang yang mau ke Barus harus melewati Sibolga dan setiap pendatang itu membawa dan memiliki siti khas/gaya serta memperkenalkan adat istiadat masing- masing. Adat India, adat Minang, begitu juga dari Tapanuli, berbaur. Akhirnya untuk mengatasi banyaknya risiko yang timbul, diadakanlah perjanjian ‘Tiga Tungku’ yang dalam bahasa Batak mungkin hampir sama dengan ‘Dalihan Natolu’ sebagai kesepakatan yang dikenal dengan adat Sumando. Sumando dalam bahasa Karo disebut semenda. Jadi adat Sumando digunakan khusus orang-orang beragama Islam.

Kalau dari Dolok ada namanya adat cucuran, itulah yang selalu digunakan anak-anak kita yang masih beragama Masehi. Jadi karena kebebasan masyarakat Pesisir dari luar maka dibuatlah kesepakatan Belanda. Jadi ditentukanlah adat budaya dengan menggunakan adat Masehi, adat orang semando yang hampir sama dengan muslim pesisir daerah lain yang namanya Sikambang. Seperti yang dibahas sebelumnya dalam acara pernikahan menggunakan adat Sikambang, itulah hiburan dalam pesta pernikahan.

Sikambang bukanlah musik yang bernada riang, lebih banyak yang berupa ratapan karena berasal dari isak tangis seseorang. Jadi dengan adanya kesepakatan tadi semua raja- raja kerajaan dan daerah pantai Timur ada tingkatan kastanya, baik tingkat kuliah, datuk-datuk, raja, yang berbeda adat istiadatnya. Gale Sembilan itulah untuk tokoh- tokoh atau keluarga raja andaikan untuk Datuk Sembilan.

Di Sumatera Barat bahasa Minang hampir sama dengan Pesisir Sibolga, tetapi karena tinggal di daerah Tapanuli, akhirnya dialeknya pun berubah. Sehingga kalau Sibolga intonasinya agak kasar, karena memang dekat dengan laut dan ada percampuran dari utara. Tapi kalau dilihat dari segi kalimat, 60% mirip dengan Sumatera Barat.

Kalau orang Minang pasti mengerti bahasa Pesisir Sibolga, begitu juga sebaliknya. Orang Minang bisa memahami bahasa Pesisir Sibolga karena masih dalam satu rumpun yang sama.

Menurut sejarahnya, raja-raja di Barus itu berasal dari Sumatera Barat. Kalau kita lihat pakaian pengantin baroki di Sumatera Barat itu menggunakan rompi juga. Roki itu berasal dari kebudayaan Arab , tapi kalau bagaluk kepala itu berasal dari Aceh dan kalau di Tapanuli selatan dikenal sebagai Galuh.

Jadi orang-orang yang ada di Sibolga adalah orang- orang pendatang. Pendatang-pendatang itu terdiri dari banyak suku, ada suku Aceh, Melayu, Minang, Batak, Bugis, Madura, dan Arab. Di sini juga ada marga ‘Meuraksa’, yang asal-usul marga ini berasal dari keturunan Arab. Marga itu banyak ditemukan di Barus.

Kalau orang Cina menggunakan bahasa Tang dan sebagian memakai bahasa asli mereka, dan sebagian menggunakan bahasa Pesisir/daerah. Pada umumnya orang Cina yang sudah lama menetap di sini bahasa asli mereka sudah mulai terkikis.

Di Barus ada makam Ibrahim Syah. Makam ini kalau menurut ahli warisnya berasal dari Tarutan, Sumatera Barat. Ia bermarga Pasaribu. Raja-raja Ibrahim Syah berasal dari Tarutan. Menurut sejarah mereka menempuh perjalanan dari Riau, yang bahasanya menggunakan bahasa Minang, karena di sana dominan masyarakat Sumatera Barat.

Menurut masyarakat Sumatera Barat, marga Tanjung yang ada di Sibolga juga berasal dari Sumatera Barat. Tetapi kalau dicari di tarombo (silsilah garis keturunan pada masyarakat Batak), marga Tanjung itu memang anak dari keturunan dari raja-raja Batak. Namun, dulu karena mereka hidup berkelompok, bisa jadi mereka tidak memiliki kekuatan atau kuasa. Demikian juga halnya bisa terjadi dengan marga.

Apabila dilihat dari hubungannya dengan bahasa, seolah-olah di pesisir pantai dijajah oleh bahasa Minang, suka atau tidak tapi itulah kenyataannya. Itulah alasan marga Tanjung banyak terdapat di Sumatera Barat. Jadi Tanjung itu adalah salah satu marga dari Sumatera Barat selain marga Pasaribu. Namun pada umumnya, kalau yang berasal dari Pesisir Tapanuli Tengah, itu mayoritas orang Batak, sedangkan kalau di Barus, dominan Tanjung dan Pasaribu.

Diterbitkan oleh Balai Bahasa Sumatera Utara, Jalan Kolam Ujung Nomor 7 Medan Estate, Medan.

Silahkan Baca Kebijakan Komentar SIBOLGA MAGAZINE sebelum berkomentar.
EmoticonEmoticon